lahatsatu.com – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan memberikan laporan terbaru mengenai kondisi kesehatan fiskal negara. Hingga periode September 2026, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dilaporkan mengalami defisit sebesar Rp 319 triliun. Meski angka defisit tersebut terlihat besar, pemerintah menegaskan bahwa kondisi keuangan negara masih berada dalam jalur yang sesuai dengan rencana awal.
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mengungkapkan bahwa nilai defisit tersebut setara dengan 1,24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Menurutnya, angka ini menunjukkan bahwa pengelolaan anggaran negara masih berjalan sesuai dengan koridor yang telah ditetapkan dalam kebijakan fiskal nasional.

"Defisit saat ini berada di angka 1,2% dari PDB. Jadi, ini masih on track atau sesuai jalur," ujar Suahasil saat memberikan keterangan dalam konferensi APBNKita di Jakarta Pusat, Selasa (9/10/2026).
Penyebab Defisit dan Perbandingan Pendapatan
Defisit anggaran ini terjadi akibat adanya ketimpangan antara jumlah pendapatan negara dengan total belanja negara yang telah dikeluarkan untuk berbagai program pembangunan dan kebutuhan operasional pemerintah. Berdasarkan data terbaru, pendapatan negara hingga bulan September 2026 telah mencapai angka Rp 2.314,5 triliun, yang menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan sebesar 25,5 persen secara tahunan (year-on-year).
Namun, di sisi lain, pengeluaran negara untuk membiayai berbagai sektor tumbuh lebih cepat. Total belanja negara tercatat mencapai Rp 2.660,5 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 19 persen. Selisih antara pendapatan yang masuk dengan belanja yang dikeluarkan inilah yang menciptakan lubang defisit sebesar Rp 319 triliun tersebut.
Menuju Target Akhir Tahun
Suahasil menjelaskan bahwa secara fundamental, desain APBN memang sengaja dirancang untuk mengalami defisit. Hal ini merupakan bagian dari strategi fiskal untuk menstimulus ekonomi nasional melalui belanja pemerintah yang ekspansif. Jika menilik ke belakang, pada akhir Agustus 2026, defisit APBN tercatat sebesar 0,9% dari PDB atau setara dengan Rp 240,1 triliun.
Pemerintah kini tengah mengawal perjalanan anggaran ini agar tetap terkendali hingga tutup tahun buku. Target akhir yang ditetapkan pemerintah adalah menjaga defisit APBN tetap berada di level 2,8% dari PDB.
"Hari ini, di akhir September, angka kita berada di 1,2%. Nanti kita akan bergerak menuju angka 2,8% di akhir tahun. Ini adalah bagian dari perjalanan APBN kita," pungkas Suahasil.
Dengan kondisi yang masih terkendali, pemerintah optimistis dapat menjaga stabilitas ekonomi makro di tengah dinamika global, sembari memastikan seluruh program belanja negara dapat terserap secara efektif untuk kesejahteraan masyarakat.




